Skip to content

Air api

Paragraf awal yang diberi pewarnaan seperti ini menandakan bahwa di t’Buko, bahasan yang ada dalam posting yang bersangkutan (termasuk posting ini) adalah relatif segmented. Pengobrolnya agak terbatas.

Konon, saat gelombang pendatang mulai tiba dan menyebar di daratan yang baru ditemukan, terjadilah pertempuran dengan penduduk asli. Pihak pendatang untung, penduduk asli bertempur sendiri-sendiri—tidak bersatu (karena antar mereka sendiri memang suka berkelahi). Meski unggul senjata, pendatang kewalahan karena lawan lebih nekat (tak takut mati) dan lebih menguasai medan (biasa hidup di alam liar). Putar akal, pendatang mencoba jurus yang berbeda. Suku-suku yang tidak terlalu menunjukkan sikap bermusuhan didatangi, dengan sikap penuh hormat. Sebagai tanda iktikad baik, tak lupa mereka bawa hadiah—peti berisi air ajaib, yang jika diminum tidak menyejukkan dahaga, tetapi justru membakar tubuh. Orang Indian menyebutnya ishkodewaaboo—yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris berarti firewater. Air api. Whiskey.

Konon pula, ketika para pemuda gagah kaum Indian mulai ketagihan minum, tiba-tiba pasokan ‘tanda persahabatan’ itu berhenti. Alasannya ini itu. “Lho, lalu bagaimana kami bisa mendapatkannya lagi?”, tanya para pemuda penuh semangat itu, bingung. “Silakan beli di toko”, jawab para pendatang, ramah. Para warriors petelanjang dada itu lagi-lagi pusing. Soalnya, mereka sama-sekali tidak punya uang. Yang punya uang hanya para pendatang. Setelah berpikir sejenak dengan penuh empati, akhirnya para pendatang keluar saran yang benar-benar simpatik: “Bekerja saja pada kami”.

Sejarah: substansi cerita di balik peristiwa…

Udin Zen – penghubung tongkat estafet

Semua orang mafhum. Di t’Buko, jika seseorang tiba-tiba ditawari ‘jabatan’ menjadi semacam program director untuk mengetuai sebuah acara tertentu, sebenarnya yang bersangkutan cuma diminta untuk memperbanyak pundi amal—pusing memikirkan persiapannya selama dua atau tiga hari sebelumnya, serta siap kerja dari petang hingga lewat tengah malam pada hari-H (meskipun jika itu adalah hari kerja). Lalu, imbalan yang sang Director (dan segenap team) terima untuk semua jerih payah itu? Sebuah ucapan terima kasih. Dan bukan yang lain—yang jauh lebih lazim.

Manajemen: antisipasi…

Bom Waktu

A-B-C-D adalah teman lama. Kedekatan di antara mereka tidak perlu diragukan lagi. AB adalah dua sejoli (pacar), sedangkan CD bahkan belum terlalu lama berselang melangsungkan pernikahan mereka. Merasa melihat peluang, mereka berempat ingin mencoba berwirausaha: bikin donat. Konkritnya, donat mereka buat di suatu tempat, lalu dijual baik secara langsung door-to-door atau dititipkan di warung atau toko yang ada di suatu wilayah. Tetapi ini bukanlah tentang donat hangat yang menggairahkan. Melainkan sesuatu yang benar-benar tidak lezat. Bom waktu.

——-

Unsur pengalaman di sini tidak terlalu menjadi soal karena ‘belum berpengalaman’ sama sekali bukan alasan untuk tidak melakukan sesuatu, yang memang perlu. There’s a first time for everything.

Usaha donatnya itu sendiri, sebagaimana pula banyak usaha lain pada umumnya, bisa dikatakan ‘netral’. Artinya, feasibility-nya cenderung lebih ditentukan oleh karakter pelaku dan situasi aktualnya, kena atau tidak.

Dari segi dana, modal awal usaha ini bisa dibilang tidak besar, sehingga masalah capital risk relatif bisa sangat dibatasi. Lumayan welcome untuk mereka yang baru untuk pertama kalinya hendak mencoba bagaimana rasanya punya usaha sendiri (sekali lagi, ini jika dilihat dari segi besar/kecilnya dana, bukan dari aspek yang lain).

Faktor manusia juga relatif bisa dikatakan tidak ada masalah. Secara individu, ABCD bukanlah orang-orang yang tidak beres. Secara hubungan, ABCD bahkan termasuk orang-orang yang terbukti mau dan mampu menjaga hubungan baik, meski tanpa motif ekonomi (sebuah kualitas yang rasanya semakin tidak mudah kita jumpai).

Trus, bomnya?

Manajemen: bom waktu…

YouTube kualitas DVD

Soal IT, t’Buko sangat bergantung pada budi baik banyak orang (terima kasih untuk semua bantuan, masukan, tips, diskusi, dan sumbangan file-nya). Jadi bisa dikatakan motif utama posting ini adalah ‘balas dendam’. Di sini kita akan sedikit membahas tentang satu-dua trik untuk men-download file Youtube yang kita sukai atau perlukan (agar bisa diputar kapan saja tanpa tergantung pada koneksi internet), sekaligus mendapatkan kualitas (gambar dan suara) yang lebih baik. Jadi meski secara konten posting ini (juga beberapa posting lain dengan kode pewarnaan seperti ini) mungkin berbeda dari posting blog ini pada umumnya, paling tidak secara semangat masih sama: berbagi. Mudah-mudahan bermanfaat.

Trik download YouTube…

Kucingan

alladin_lamp [wpclipart_com]Di banyak daerah di Jawa Tengah, mudah kita jumpai penjual ‘nasi kucingan’ (Jawa: sega kucingdilafalkan ‘sego kucing’ dengan kecualian daerah Banyumas yang mengucapkannya ‘sega kucing’). Ini adalah istilah untuk nasi bungkus dalam porsi mini (atau ‘porsi kucing’, meski diperuntukkan bagi manusia). Sudah barang tentu tidak hanya nasi yang dijual di ‘[warung] kucingan’. Umumnya menu lainnya adalah berbagai gorengan dan lauk (yang biasanya kesemuanya itu dipasok oleh orang lain), serta mie instan dan beberapa pilihan minuman—terutama yang non-kemasan (yang biasanya disiapkan oleh tukang kucingannya sendiri).

Soal harga tak perlu khawatir. Untuk area Semarang, setidak-tidaknya sampai dengan tahun 2009 (saat t’Buko masih ada), rentang harganya sekitar Rp500 (gorengan) hingga Rp3.500 (mie instan, sudah pakai telor). Nasinya sendiri biasa dibandrol flat dengan kisaran antara Rp1.500 hingga Rp2.500 per bungkus (tergantung di kucingan mana kita membelinya)—dan itu sudah termasuk ‘lauk’ (seperti telor, ampela, ati, daging, atau ikan) yang notabene berupa irisan kecil yang ada di dalam, lengkap dengan bawang gorengnya. Versi nasi goreng juga ada (tanpa lauk), harga sama.

Bayangkan. Dua bungkus nasi dengan segelas teh/kopi, dan kita mendapati bahwa lembaran lima-ribuan yang tinggal semata wayang di kantung itu ternyata masih mendapatkan kembalian. Sebuah menu nasi dengan harga ultra-rakyat.

Kucingan: sebuah pagar budaya…