Skip to content

Siaran Langsung

December 28, 2013
Tidak mudah menjelaskan arti warna merah ini. Tapi sekadar sebagai sebuah ancar-ancar, jika pembaca merasa konten blog ini banyak yang ganjil atau lebay, maka yang bertanda ‘red alert’ seperti ini mungkin akan lebih tidak karuan lagi.🙂

Kalau di depan kita ada teman, kita pasti tahu. Kelihatan, soalnya. Kalau dengan mata tertutup? Bisa dengan kesenggol. Bahkan jika ia berada di ruang sebelah pun kita juga bisa tahu kalau di sana ada orang. Misalnya kalau si teman batuk.

Kalau ia pamit lalu pergi? Ia jadi tak kelihatan lagi, tentunya. Setidak-tidaknya untuk sementara waktu (kecuali kalau kepergiannya permanen). Apapun, tidak ada yang aneh di sini. Semuanya mudah dipahami.

Pemahaman atau persepsi kita banyak dipengaruhi oleh indra. Kita tahu ada sesuatu, karena sesuatu itu terindra (terlihat, terdengar, terasa, dst), seperti contoh si teman tadi. Toh pemahaman tentu saja tidak melulu dibangun oleh panca idra. Sekian hal lain seperti ingatan, perhatian (atau minat) dan pembelajaran jelas ikut menentukan. Dengan kata lain, persepsi kita berkembang.

Suatu persepsi tidak selamanya benar. Sering keliru, malah—karena satu atau lain sebab. Saat menonton sulap, misalnya. Sulap bisa dibilang adalah sebuah seni ilusi. Meski tak semua atraksi sulap berupa ilusi visual, tetapi pasti bermain di seputar ilusi atau ‘persepsi yang keliru’ (false perception)—melihat yang tidak ada dan sekaligus tidak melihat yang ada, katakanlah begitu.

Ilusi (illusion) tidak identik dengan ketidaknyataan (unreality). Misalnya game-online, di mana para gamers bisa berbagi petualangan dalam sebuah dunia khayal bersama, adalah sebuah dunia adiktif yang, meski imajinatif, tidak ilusif—karena memang tidak terjadi kekeliruan persepsi di sini. Jadi sesuatu yang tidak nyata memang tidak harus ilusif, sebaliknya sesuatu yang nyata tidak harus tidak ilusif (maaf kalau agak njlimet).


Bekal

Dari sekolah, kita tahu kecepatan cahaya di ruang hampa adalah 300.000 km/detik. Kedengarannya cepat sekali. Tapi konkritnya, sebenarnya seberapa cepatkah itu? Sayang, dulu pelajarannya (SMP kelas-1) bisa dibilang berhenti di situ, padahal ini bisa jadi titik awal yang asyik. Mungkin ini soal kurikulum.. tapi baiklah. Yang pasti kita berterima kasih kepada guru kita yang sudah berbaik hati membuka gerbang wawasan itu. Sekarang mari kita coba sedikit mempersepsikan kecepatan cahaya.

Secara kasar, ini ibarat memacu kendaraan dari Jakarta ke Bali, pulang kembali ke Jakarta, dan terus diulangi lagi sampai 150 kali (pp). Masalahnya, semua pekerjaan ‘melelahkan’ itu dilakukan dalam durasi satu detik. Ngebut sekali! (satu tarikan nafas perlu waktu lebih lama daripada itu). Mungkin kita bakal gila di jalan. Kalau sempat.

Jika satu detik cahaya dapat 300.000 km (sudah lebih dari tujuh kali keliling ekuator, atau setara dengan 3/4 perjalanan ke bulan), satu tahun cahaya pasti jauh sekali. Tapi kita akan main dengan yang dekat-dekat dulu.

Saking cepatnya cahaya, kalau di ujung lapangan sepakbola teman kita menyalakan senter, kita merasa melihat senter tersebut menyala seketika, padahal sesungguhnya tidaklah demikian. Ada waktu yang diperlukan cahaya senter untuk sampai ke mata kita (nge-lag, kalau meminjam istilah para gamers). Karena jaraknya terlalu dekat, kita jadi tidak merasa ada yang nge-lag. Kita perlu contoh yang lebih jauh.


Tamasya

Kita coba matahari. Karena jauh (tidak dekat seperti ujung lapangan sepakbola yang hanya 2-3 lemparan batu), cahaya matahari perlu waktu sekitar delapan menit untuk sampai ke bumi. Berarti kalau idenya mau konsisten, jika matahari dalam keadaan mati lalu dihidupkan (anggap saja lampu senter), terangnya baru akan menerpa bumi delapan menit kemudian.

Dengan kata lain: sang surya nge-lag.

Kalau game-online lelet dan nge-lag selama delapan menit (dan bukan cuma satu atau dua detik), para gamers pasti mengamuk. Tapi masalah nge-lag ini sepertinya punya konsekuensi logis yang lebih serius daripada kemarahan para gamers.

Matahari yang jelas kita lihat bertengger di angkasa kala siang itu, berarti cuma ilusi. Ia tidak tepat benar-benar berada di sana. Sudah bergeser sedikit. Karena (sekali lagi jika idenya tetap mau konsisten) berarti apa yang kita lihat itu pada hakikatnya adalah posisi beliau delapan menit sebelumnya.

*****

bright_yellow_star [wpclipart_com]Kita main lebih jauh. Setelah matahari (yang jaraknya dari bumi cuma delapan menit cahaya alias dekat sekali itu), bintang terdekat jaraknya sekitar empat tahun cahaya (jika berkenan silakan hitung sendiri empat tahun itu terdiri dari berapa kali delapan menit). Artinya, andaikata bintang ini tiba-tiba mati-hidup sendiri, kita para penduduk bumi baru akan menyadari efeknya setelah empat tahun kemudian.

Lumayan. Tapi ini rasanya juga masih terlalu dekat.

Di galaksi kita (Bima Sakti) ada beberapa ratus miliar bintang (matahari merupakan  salah satu di antaranya). Mengingat posisi tata surya kita ada di tepi galaksi (galaksi lain masih banyak, tapi kita tidak akan ke sana—terlalu jauh, nanti kecapekan), maka agar lebih puas kita akan coba bergeser lebih ke tengah, menuju pusat Bima Sakti. Ke sebuah bintang yang jaraknya 50 ribu tahun cahaya dari bumi.

Persoalannya, bagaimana jika bintang yang ada di pusat galaksi ini telah mengalami supernova (meledak) 30 ribu tahun yang silam? Konsepnya tidak ada yang berubah. Kita di bumi masih akan melihatnya baik-baik saja selama 20 ribu tahun ke depan, saat akhirnya anak-cucu kita generasi ke-sekian melihat ‘kembang api’ ledakannya.


Pulang

Jadi sekarang jelas sudah apa persoalan yang lebih serius daripada kemarahan para gamers tersebut di atas. Kalau begitu, seperti matahari, taburan bintang nan indah di langit malam yang jernih itu berarti juga ilusi: posisinya salah semua. Dan (terlepas dari persoalan posisi yang ilusif) sebagian dari apa yang tampak sedang bekerlip mempesona itu sejatinya bahkan sudah tidak ada (tidak nyata) lagi. Sudah musnah. Meledak, hancur jadi debu kosmik. Jutaan tahun yang lalu.

Dan biang keladi dari semua kekeliruan persepsi ini adalah cahaya. Karena dalam konteks jagad raya, superhero terbang paling cepat yang kita kenal itu ternyata cuma mahluk lamban superlelet. Ia seperti penyampai berita yang tidak paham deadline. Infonya demikian ketinggalan zaman.

Tapi mungkin memang itu maksudnya. ‘Keterlambatan’ yang berbuah ilusi indah itu membuat kita punya waktu untuk memaknai kenyataan yang terpampang di sana (yang rahasianya mungkin bakal selamanya terkubur, kalau cahaya tidak nge-lag). Karena saat menengadah ke langit malam, sesungguhnyalah kita bukan sedang melihat bintang-bintang, tapi Sejarah.

Kita menyaksikan masa silam. Dengan mata telanjang.

*****

—————————

Gambar: wpclipart [Bright Yellow Star]

From → Red Alert

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s