Skip to content

Mbuèn

March 22, 2013
Di masa embrio, saat kedai belum buka, di rumah yang kemudian menjadi t’Buko kadang ‘digelar’ nonton bareng (dengan jumlah ‘massa’ 2-3 orang). Salah satu film yang sempat diputar adalah The Shawshank Redemption karya Frank Darabont tahun 1994 yang berkisah tentang kehidupan orang-orang penjara. Dalam film tersebut ada mencuat satu kata yang lumayan menggelitik: institutionalized.

Pada satu adegan, tampak sejumlah narapidana asyik membicarakan rekan mereka yang akan segera bebas, Brooks—napi tua yang merupakan pesuruh sekaligus ‘raja’ perpustakaan penjara. Seorang napi, Red, berkata, adalah wajar jika Brooks takut menyongsong hari kebebasannya sendiri. Untuk mereka yang terlalu lama terkurung di dalam, gagasan hidup di luar bisa terdengar seperti sebuah ancaman. Alasannya sederhana: tembok penjara tak lagi terasa mengekang, tetapi justru melindungi. Jika sudah begitu—masih menurut Red, berarti yang bersangkutan sudah institutionalized.

*****

Ketika kedai sudah operasional, salah satu kultur yang terbentuk adalah kegairahan untuk membicarakan ‘apa saja’, termasuk istilah-istilah lokal (utamanya Semarang dan sekitarnya) yang sebagian mulai meredup karena ditinggalkan petuturnya sendiri. Salah sebuah kata yang pernah dibahas adalah mbuèn.

Mbuèn berarti ‘bui’ (penjara). Wong mbuèn berarti orang bui, dalam pengertian orang yang sedang menjalani masa hukuman (jadi segenap pegawai/aparat yang bekerja di sana tidak termasuk dalam pengertian ini—meski notabene sehari-hari mereka juga hidup ‘di penjara’). Dengan kata lain, mbuèn adalah sebuah ‘status hukum’.

Pengertian kata ini lalu berkembang. Mungkin karena orang yang baru bebas keluar penjara kadang terasa ‘beda sendiri’ saat kembali baur di luar, mereka yang dianggap sering berperilaku ‘berbeda’ dengan masyarakat pada umumnya pun akhirnya kadang diberi predikat mbuèn (terlepas dari apakah yang bersangkutan benar-benar pernah dipenjara atau tidak). Dalam pengertian ini, mbuèn adalah sebuah ‘model perilaku’.

pos_ShawshankRedemptionMoviePoster [imdb_com]Masih ada satu pengertian lagi, yaitu mbuèn sebagai sebuah ‘sikap mental’. Di sini mbuèn hadir dalam sosoknya yang paling mendasar—kengototan untuk tetap berada ‘di dalam’ yang berakar dari ketakutan untuk ‘keluar’ (meski jika harus). Biasa menjangkiti mereka yang terlalu lama hidup dalam penjara—baik secara fisik (di dalam bui) ataupun gagasan (penjara pikiran atau zona nyaman, misalnya). Jika sudah terlanjur terlalu fasih hidup dalam ‘dinamika statis’ yang praktis tanpa pilihan, kebebasan justru bisa menjadi momok yang menakutkan. Inilah orang-orang yang sudah demikian terdegradasi fleksibilitasnya. Yang sudah hilang percaya diri untuk membuat pilihan, saat menghadapi ketidakpastian. Yang takut berpunya harap. Yang mudah terintimidasi oleh [ide] kemerdekaan mereka sendiri. Untuk mereka yang sudah ‘terkondisikan’ seperti inilah kata institutionalized berlaku. Paling tidak, demikianlah yang ada dalam film The Shawshank Redemption.

*****

T’Buko adalah sebuah tempat yang mbuèn, karena di sana memang banyak sekali orang mbuèn (paling tidak dalam pengertian yang ke-2).

Di rumah-kedai itu, hal-hal seperti keberanian memelihara harap, kepekaan, ataupun semangat kebersamaan tak hidup sebatas jargon, tetapi justru tumbuh subur. Ini jelas berbeda dengan trend yang kian mendasarkan segala sesuatunya dari aspek materi sehingga hal-hal yang bersifat values (seperti beberapa contoh di atas) hanya akan dianggap penting jika ada imbalan materinya.

Di sana orang juga masih percaya dengan perlunya melampaui tahapan-tahapan wajar dalam upaya mewujudkan harapan. Ini juga jelas tidak sesuai trend, yang didominasi oleh budaya instan di mana kita semakin mudah menghalalkan segala sesuatu untuk sebuah jalan pintas—sehingga orang semakin gampang mengorbankan kepentingan atau kebutuhan jangka panjang demi pencapaian kekinian.

Harap tidak salah baca. Yang kita bicarakan bukanlah orang-orang yang tidak senang dengan materi atau kemudahan. Tentu saja mereka suka. Ke-mbuèn-an mereka lebih kepada bahwa mereka juga masih menganggap penting hal-hal yang [semakin] tidak dianggap perlu oleh kebanyakan orang. Mereka adalah orang-orang yang [pernah] percaya dengan perlunya teguh pada hal-hal prinsip, meski manfaatnya tidak seketika dan ganjaran materinya sering tak langsung jelas. Yang mau cukup nekat untuk juga masih menganggap penting ‘rasa’, saat banyak orang lain hanya mengejar ‘menu’.

Apapun, satu hal rasanya gamblang sudah: meski orang t’Buko mbuènmbuèn, mereka jelas tidak institutionalized.

*****

—————————

Poster: imdb

From → Yellow Area

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s