Skip to content

Air api

February 24, 2013
Paragraf awal yang diberi pewarnaan seperti ini menandakan bahwa di t’Buko, bahasan yang ada dalam posting yang bersangkutan (termasuk posting ini) adalah relatif segmented. Pengobrolnya agak terbatas.

Konon, saat gelombang pendatang mulai tiba dan menyebar di daratan yang baru ditemukan, terjadilah pertempuran dengan penduduk asli. Pihak pendatang untung, penduduk asli bertempur sendiri-sendiri—tidak bersatu (karena antar mereka sendiri memang suka berkelahi). Meski unggul senjata, pendatang kewalahan karena lawan lebih nekat (tak takut mati) dan lebih menguasai medan (biasa hidup di alam liar). Putar akal, pendatang mencoba jurus yang berbeda. Suku-suku yang tidak terlalu menunjukkan sikap bermusuhan didatangi, dengan sikap penuh hormat. Sebagai tanda iktikad baik, tak lupa mereka bawa hadiah—peti berisi air ajaib, yang jika diminum tidak menyejukkan dahaga, tetapi justru membakar tubuh. Orang Indian menyebutnya ishkodewaaboo—yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris berarti firewater. Air api. Whiskey.

Konon pula, ketika para pemuda gagah kaum Indian mulai ketagihan minum, tiba-tiba pasokan ‘tanda persahabatan’ itu berhenti. Alasannya ini itu. “Lho, lalu bagaimana kami bisa mendapatkannya lagi?”, tanya para pemuda penuh semangat itu, bingung. “Silakan beli di toko”, jawab para pendatang, ramah. Para warriors petelanjang dada itu lagi-lagi pusing. Soalnya, mereka sama-sekali tidak punya uang. Yang punya uang hanya para pendatang. Setelah berpikir sejenak dengan penuh empati, akhirnya para pendatang keluar saran yang benar-benar simpatik: “Bekerja saja pada kami”.

Masih konon lagi, sejak saat itu sedikit demi sedikit semakin banyak kaum Indian yang hidup ala western, [sia-sia] berusaha menjadi seperti para pendatang itu (ini memang berbeda dengan film Dances with Wolves yang monyos itu, di mana justru ‘si kulit pucat’—meminjam istilah orang Indian, yang mati-matian hidup ala Indian dan bahkan berjibaku untuk mereka).

*****

Memang kalau sudah addictive (ketagihan, kecanduan), untuk banyak hal lainnya orang lalu cenderung jadi tidak sadar, meski notabene tidak sedang semaput. Menatap, tapi tidak melihat. Melihat, tapi tidak mengerti. Conscious, tapi tidak aware.

Air api membuat banyak kaum muda Indian yang gagah berani lupa akan banyak hal—dan bahkan saat nasib [bakal] anak cucu mereka sudah di ujung tanduk, yang mereka pikirkan hanya mabuk (dan gagasan bahwa sebagai sebuah kolektivitas besar mereka sesungguhnya sedang berperang bahkan tak pernah terlintas dalam benak).

Mereka tak sadar bahwa latah mencoba hidup seperti orang lain berarti melepaskan banyak nilai-nilai yang merupakan identitas mereka sendiri. Nilai-nilai yang—meski dengan susah payah, membuat mereka eksis (diakui, tak sekadar survive) di tanah maha luas yang membentang dari utara hingga selatan bumi itu.

*****

Tulisan ini (juga semua tulisan lainnya dalam blog ini) sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengorek luka lama atau membangkitkan antipati terhadap siapa pun (dan toh semua orang, negara/bangsa mana pun, pasti punya catatan kurang sedap), tetapi sekadar menyuarakan bahwa jika kita mengabaikan sejarah, maka kemungkinannya terbuka lebar kita akan terjerumus (kembali) ke dalam perkara yang serupa.

wpclipart_com (bus)Dan bahwa sedikit membuka sejarah dunia sungguh tak ada ruginya, karena ini seperti mendapatkan pelajaran dari pengalaman (baca: atas biaya) orang lain. Seperti masuk sekolah gratis, tinggal baca buku saja.

Akan tetapi memang tidak ada sejarah yang lebih berharga daripada sejarah kita sendiri. Catatan perjalanan identitas diri kita sendiri. Masalahnya mungkin tinggal apakah kita mau. Dan kalau jawabannya adalah ‘Ya’, pertanyaan yang mungkin terdengar konyol ini boleh coba dijawab: Sudahkah kita menganggap guru sejarah sebagai orang-orang yang ikut menentukan masa depan (tak kalah penting dari guru matematika atau bahasa Inggris, misalnya)?

Dan jika yang terakhir itu jawabannya negatif, yang berikut ini mungkin relevan.

Menurut sejarah, paling tidak kita pernah dua kali lumayan disegani di tingkat dunia, masa Sriwijaya (terima kasih untuk pendeta Tiongkok dan ahli sejarah Perancis) dan masa Majapahit. Agar tak mabuk kejayaan masa lalu, catatan perak atau emas itu perlu kita beri imbangan. Tak perlu yang terlalu sensitif, yang umum saja—masa yang tiga setengah abad dan tiga setengah tahun itu, misalnya.

Masalahnya kini tinggal soal penyikapan. Akankah kita melihat sejarah sebagai sekadar sebuah catatan tanggal dan nama—dan karena itu hanya pantas dihafal (terutama pada saat-saat tertentu atau sekadar agar tampak ingat), ataukah sejarah sebagai sebuah upaya memaknai substansi cerita di balik peristiwa—dan oleh karena itu harus ada manfaat yang bisa kita petik darinya?

Jadi masa 3½+3½≠7 itu misalnya bisa kita maknai sebagai sebuah catatan panjang kehebatan kita (dengan mengamini logika bahwa setelah dijajah sekian lama toh buktinya kita sekarang masih baik-baik saja—dan oleh karena itu ‘prestasi’ tersebut sebaiknya kita pertahankan), atau justru sebagai sebuah catatan kelam keteledoran (sebuah pengalaman air api, bahwa kita pernah demikian tidak aware, jadi bulan-bulanan orang dalam waktu demikian lama—dan oleh karena itu perlu banyak sekali berbenah, sejak dari usia yang sangat dini).

Dan jika yang terakhir itu sikap kita, maka pertanyaannya kemudian mungkin adalah: Kenapa? Apa ‘candu’ kita, yang sudah membuat kita demikian tidak tanggap? Sekadar karena naifkah? Atau justru karena enggan?

*****

Jika melihat kondisi dan perangai kita dewasa ini, rasanya sudah sangat mendesak bagi kita untuk membangun sebuah kesadaran kolektif bahwa kita perlu lebih mau belajar dari pengalaman (baca: sejarah)—siapa pun pelakunya. Sebab jika tidak, bukan tidak mungkin kita akan menjadi seperti orang yang berkali-kali terjun masuk jurang, hanya untuk membuktikan bahwa sampai di bawah itu [masih] sakit.

Kedengarannya seperti sebuah rutinitas yang tidak terlalu menyenangkan.

*****

————————

Catatan: Dalam konteks yang berbeda-beda, jurus air api (sekarang gratis besok beli) sering digunakan orang. Beberapa contoh misalnya Perang Candu (China-Inggris), pengedar narkoba dalam menjerat mangsa baru, hingga Microsoft dengan Windows (dan mungkin juga MS-Office)-nya. Sekali lagi, konteksnya lain, tetapi jurusnya tidak.

Gambar: wpclipart (bus)

From → Yellow Area

2 Comments
  1. Saya suka tulisannya dan tidak menganggapnya sekadar ‘mengorek luka lama’ atau sejarah basa-basi. Sejarah itu barang mahal, tapi tergantung bagaimana barang mahal itu diolah. Kejadian soal aditif hampir sepola dengan sikon drugs war yg dibawa bangsa Barat ke tanah China.

    • Senang rasanya ada calon jurnalis (eh, sekarang mungkin sudah ya?) yang concern dengan perkara (yang tidak populer) seperti ini. Terima kasih, Classically. Be good you up there. Good luck.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s