Skip to content

Udin Zen – penghubung tongkat estafet

February 11, 2013

Semua orang mafhum. Di t’Buko, jika seseorang tiba-tiba ditawari ‘jabatan’ menjadi semacam program director untuk mengetuai sebuah acara tertentu, sebenarnya yang bersangkutan cuma diminta untuk memperbanyak pundi amal—pusing memikirkan persiapannya selama dua atau tiga hari sebelumnya, serta siap kerja dari petang hingga lewat tengah malam pada hari-H (meskipun jika itu adalah hari kerja). Lalu, imbalan yang sang Director (dan segenap team) terima untuk semua jerih payah itu? Sebuah ucapan terima kasih. Dan bukan yang lain—yang jauh lebih lazim.

Tetapi anehnya bukan saja tidak pernah menolak, orang justru sering mengajukan diri untuk terlibat dalam kegiatan yang menguras tenaga serta pikiran (dan sedikit banyak tentunya juga kantong) itu. Banyak sudah kustomer generasi awal yang berkembang bersama makkopi dan t’Buko dalam hal ini. Dari nol, sebagian dari mereka kemudian bahkan mampu menangani acara serupa di luar (bukan lagi sekadar di lingkup t’Buko) dalam skala publik yang jauh lebih besar. Dalam pengertian yang profesional.

*****

petot1Toh ketika seorang Udin tiba-tiba ditawari ‘posisi berwibawa’ tersebut, tak urung semua orang heran. Baik para makkopi atau kustomer lama—terutama yang biasa meng-handle acara serupa, saling bertanya-tanya, apa maunya t’Buko memasrahkan kerjaan ribet seperti itu kepada orang yang belum punya jam terbang sama sekali, saat banyak yang sudah berpengalaman akan dengan senang hati menanganinya. Udin sendiri pun tak urung tercekat, sekejap. Ia segera menyatakan kesediaannya.

Meski ketika memberi kata sambutan menjadi lucu (terus-menerus mengundang tawa, karena jelas-jelas terlihat kaku dan serba salah, baik mimik maupun ucap), acara itu sendiri berjalan mantap lancar, semua puas. Udin sudah menunjukkan, jika ada nyali (berani mencoba), ada mau (berusaha konsisten) dan ada mutual trust, maka bukan tidak mungkin kita bisa melakukan hal-hal yang drastis. Tetapi sesungguhnya yang dipersembahkan olehnya adalah lebih daripada sekadar sebuah acara yang sukses. Jauh lebih daripada itu.

*****

Sosoknya yang cerdas, improvisatif, bisa sangat jenaka, mampu menjalin hubungan dengan berbagai generasi kustomer dan makkopi secara mulus serta—mungkin justru ini yang paling penting, belum berpengalaman menangani acara di t’Buko sebelumnya itu, membuatnya menjadi figur yang ideal untuk menjembatani kesenjangan antar generasi kepanitiaan di t’Buko. Banyak yang tiba-tiba (kembali) tersadar, bahwa kedai tempat mereka singgah itu sangat welcome kepada yang belum berpengalaman.

Setelah malam itu, perlahan tapi pasti kustomer angkatan baru semakin berani untuk melibatkan diri dalam kepanitiaan acara—bukan hanya sebagai pelaksana, tetapi juga dalam menentukan progam. Sehingga ketika banyak panitia handal yang merupakan kustomer lamanya mulai menghilang (baik karena faktor kesibukan ataupun domisili), t’Buko sudah siap. Kompetensi sudah tertransfer. Saat paling tepat untuk mulai mempersiapkan regenerasi memang justru ketika kita belum memerlukannya.

*****

Hanya satu kali itu saja pembetot bas berbadan lumayan kekar ini mempawangi sebuah acara di t’Buko. Tetapi betapapun, Udin sudah menjalankan perannya. Dengan sangat, sangat baik.

—————————
Foto: dok. t’Buko

From → People

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s