Skip to content

Bom Waktu

February 6, 2013

A-B-C-D adalah teman lama. Kedekatan di antara mereka tidak perlu diragukan lagi. AB adalah dua sejoli (pacar), sedangkan CD bahkan belum terlalu lama berselang melangsungkan pernikahan mereka. Merasa melihat peluang, mereka berempat ingin mencoba berwirausaha: bikin donat. Konkritnya, donat mereka buat di suatu tempat, lalu dijual baik secara langsung door-to-door atau dititipkan di warung atau toko yang ada di suatu wilayah. Tetapi ini bukanlah tentang donat hangat yang menggairahkan. Melainkan sesuatu yang benar-benar tidak lezat. Bom waktu.

——-

Unsur pengalaman di sini tidak terlalu menjadi soal karena ‘belum berpengalaman’ sama sekali bukan alasan untuk tidak melakukan sesuatu, yang memang perlu. There’s a first time for everything.

Usaha donatnya itu sendiri, sebagaimana pula banyak usaha lain pada umumnya, bisa dikatakan ‘netral’. Artinya, feasibility-nya cenderung lebih ditentukan oleh karakter pelaku dan situasi aktualnya, kena atau tidak.

Dari segi dana, modal awal usaha ini bisa dibilang tidak besar, sehingga masalah capital risk relatif bisa sangat dibatasi. Lumayan welcome untuk mereka yang baru untuk pertama kalinya hendak mencoba bagaimana rasanya punya usaha sendiri (sekali lagi, ini jika dilihat dari segi besar/kecilnya dana, bukan dari aspek yang lain).

Faktor manusia juga relatif bisa dikatakan tidak ada masalah. Secara individu, ABCD bukanlah orang-orang yang tidak beres. Secara hubungan, ABCD bahkan termasuk orang-orang yang terbukti mau dan mampu menjaga hubungan baik, meski tanpa motif ekonomi (sebuah kualitas yang rasanya semakin tidak mudah kita jumpai).

Trus, bomnya?

——-

Agar lebih mudah, kita gunakan contoh fiktif terlebih dahulu. EF adalah kakak-adik, dan GH adalah bapak-anak (dari  keluarga yang berbeda dengan EF). Keempatnya lalu berpatungan mendirikan usaha. Sebagai kenalan baik, EFGH tidak ada masalah. black_bomb [openclipart_org] [ricardomaia]Akan tetapi sebagai partner usaha, komposisi ini bisa mengundang masalah, karena secara alamiah akan sangat membuka ruang untuk terjadinya polarisasi yang tidak sehat. Saat antara E dan G sedang bersilang pendapat misalnya, besar kemungkinan F dan H akan terposisikan untuk mendukung keluarganya masing-masing, dan begitu pula sebaliknya. Secara peluang, kondisi ini akan berulang. Dan seiring waktu (yang mungkin tidak perlu lama), perbedaan di antara kedua kubu akan mengkristal (yang artinya komunikasi praktis terhenti karena tidak adanya kecairan dalam hubungan). Jika sudah sampai pada kondisi seperti ini, secara spirit persekutuan itu sudah bisa dikatakan bubar.

Soal hasil (materi) yang sempat diraih tentu tergantung banyak hal, akan tetapi untuk hubungan yang berakhirnya dengan cara seperti ini hampir bisa dipastikan salah satu hasilnya adalah hilangnya kenalan baik (baca: teman). Hilang teman karena alasan meninggal dunia adalah sebuah kehilangan. Hilang teman saat yang bersangkutan masih hidup konotasinya adalah permusuhan. Baik dilihat secara personal maupun link usaha, kerugiannya berlipat.

Perlu diperhatikan bahwa yang menjadi permasalahan dalam skenario fiktif di atas bukanlah karakter individu EFGH (egois atau jujur, misalnya), melainkan lebih kepada posisi relatif mereka satu sama lain, pola hubungan di antara mereka sendiri. Dengan model hubungan darah yang seperti itu, EFGH akan cenderung terposisikan dalam situasi yang senantiasa oversensitive—ofensif atau defensif.

Penekanan tentang pentingnya memperhatikan komposisi para pemilik usaha di atas adalah dengan asumsi bahwa usaha bersama yang dijalankan dimaksudkan sebagai sebuah on-going concern (berkelanjutan). Untuk keperluan yang bersifat lebih jangka pendek, batasannya mungkin bisa agak dilonggarkan (meski jelas bukan untuk ditiadakan sama sekali). Kasusnya juga agak berbeda jika misalnya EF mengajak G (tanpa H), sehingga G akan terposisikan untuk membantu EF (dan bukannya sebagai pesaing dalam menentukan keputusan akhir).

Kasus ABCD (yang faktual) tidaklah seekstrim EFGH (yang hipotetikal). Akan tetapi secara prinsip sama saja, pola kedekatan di antara para subjeknya sejak awal sudah terlalu mengkutub. Lihat lagi: AB dua sejoli (pacar), CD pasutri (pasangan suami istri). Jadi problem ABCD dalam kasus ini adalah: mereka terlalu dekat. Secara peluang, karakter persekutuannya (baca: persatuannya) bisa digambarkan seperti berikut.

Alih-alih:
A+B+C+D = ABCD (kondisi yang diharapkan: terciptanya kesatuan)

Kemungkinan logisnya adalah:
A+B+C+D = AB & CD (masa awal, polarisasi belum memicu konflik)

yang seiring waktu arahnya akan cenderung menjadi
A+B+C+D = AB vs CD (saat polarisasi sudah mulai memicu konflik)

Meski belum tentu pola komposisi bom waktu seperti ini akan berakhir buruk, sebagaimana tidak ada yang bisa memastikan bahwa sebuah komposisi ideal pasti akan berlangsung baik, akan tetapi yang hendak ditekankan di sini adalah bahwa secara peluang, komposisi seperti ini pada umumnya cenderung berbahaya.

Intinya adalah bahwa dalam merintis partnership, ada komposisi-komposisi tertentu (dari profil para owners-nya) yang sebaiknya diwaspadai/hindari. Misalnya komposisi yang cenderung mengakomodasi perkubuan (dan bukannya yang kondusif terhadap terbangunnya kesatuan), tidak peduli seberapa baik pun hubungan yang terjalin saat masih belum menjadi partner usahaseperti dalam kasus ABCD dan EFGH di atas.

Komposisi lain yang juga perlu diwaspadai (karena juga riskan, meski dengan tipikal penyakit yang berbeda) misalnya adalah dua orang yang membangun usaha bersama, dengan pembagian kewajiban-hak secara fifty-fifty, karena ini akan sama artinya dengan adanya dua raja dalam satu kerajaan. Jadi di sini yang berbahaya bukan komposisi orangnya, melainkan komposisi kewajiban-hak yang sama kuat, yang bisa fatal jika keduanya berseberang pendapat.

——-

Rencana itu (bikin donat) akhirnya tak jadi dilakukan. Artinya, ABCD terhindar dari konflik berlarut yang hampir pasti terjadi (jika rencana diteruskan). Sampai sekarang, hubungan di antara mereka tetap baik. Dan itu penting.

——-

————————————

Sumber gambar: openclipart.org [oleh: ricardomaia; judul: ‘black bomb’]

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s