Skip to content

Kucingan

February 1, 2013

alladin_lamp [wpclipart_com]Di banyak daerah di Jawa Tengah, mudah kita jumpai penjual ‘nasi kucingan’ (Jawa: sega kucingdilafalkan ‘sego kucing’ dengan kecualian daerah Banyumas yang mengucapkannya ‘sega kucing’). Ini adalah istilah untuk nasi bungkus dalam porsi mini (atau ‘porsi kucing’, meski diperuntukkan bagi manusia). Sudah barang tentu tidak hanya nasi yang dijual di ‘[warung] kucingan’. Umumnya menu lainnya adalah berbagai gorengan dan lauk (yang biasanya kesemuanya itu dipasok oleh orang lain), serta mie instan dan beberapa pilihan minuman—terutama yang non-kemasan (yang biasanya disiapkan oleh tukang kucingannya sendiri).

Soal harga tak perlu khawatir. Untuk area Semarang, setidak-tidaknya sampai dengan tahun 2009 (saat t’Buko masih ada), rentang harganya sekitar Rp500 (gorengan) hingga Rp3.500 (mie instan, sudah pakai telor). Nasinya sendiri biasa dibandrol flat dengan kisaran antara Rp1.500 hingga Rp2.500 per bungkus (tergantung di kucingan mana kita membelinya)—dan itu sudah termasuk ‘lauk’ (seperti telor, ampela, ati, daging, atau ikan) yang notabene berupa irisan kecil yang ada di dalam, lengkap dengan bawang gorengnya. Versi nasi goreng juga ada (tanpa lauk), harga sama.

Bayangkan. Dua bungkus nasi dengan segelas teh/kopi, dan kita mendapati bahwa lembaran lima-ribuan yang tinggal semata wayang di kantung itu ternyata masih mendapatkan kembalian. Sebuah menu nasi dengan harga ultra-rakyat.

*******

Meski secara fisik kebanyakan [warung] kucingan tidak banyak berbeda dengan warung tenda yang lain, secara karakter sebuah kucingan sangatlah khas, untuk tidak mengatakan unik.

Jam operasional warung kucingan umumnya mulai menjelang petang, dan tutup setelah tengah malam. Jarang ada yang buka lebih awal dari itu (di Semarang bahkan ada kucingan yang tengah malam baru buka).

Sebuah tempat usaha—meski hanya warung tenda, lazimnya mempunyai nama (“Nasi Uduk Mbak Atik”, “Sate Kambing Solo”, dsb). Akan tetapi entah kenapa, hampir semua kucingan hadir brandless alias tanpa ‘merk dagang’. Lucunya, jurus yang bisa dibilang menyalahi pakem marketing ini mungkin justru efektif mengangkat figur pedagangnya. Jadi, alih-alih mengucapkan ‘warung anu’ atau ‘kucingan anu’, saat menyebut kucingan orang cenderung mengatakan dengan cara khas seperti ini: “Eh, kita ke tempat Pak Anu, yuk?”, seolah ‘Pak Anu’ benar-benar bukan orang lain. Meski dalam lingkup terbatas, betapapun, ini jelas positioning—sebuah pencapaian yang dalam ilmu pemasaran modern selalu dianggap prestisius.

Dari aspek komoditi, nasi (yang notabene di Indonesia merupakan makanan pokok), di kucingan sering diperlakukan sekadar sebagai kudapan pengganjal perut (sebelum atau sesudah makan malam—yang biasanya dilakukan di rumah masing-masing). Secara konsep, ini jelas kebilang aneh dan tidak sama dengan ‘perilaku’ warung nasi pada umumnya di mana menu nasi selalu menjadi bagian dari main course’ (sajian atau hidangan utama) yang menggantikan jadwal makan di rumah.

Faktor pedagangnya juga menarik. Kebanyakan kucingan adalah semi-mobile yaitu menggunakan gerobak dorong dengan lokasi mangkal yang tetap, seperti layaknya warung tenda. Bedanya, jika pedagang pada warung tenda umumnya adalah team, mayoritas tukang kucingan yang mobile adalah lone-wolf (bekerja sendirian). Sejak berangkat mendorong gerobak dari tempat tinggal menuju tempat mangkal dan melayani pembeli hingga pulang, semuanya mereka lakukan sendirian.

Profil pelanggannya sendiri sangatlah bervariasi. Dari pelajar, pegawai rendahan dan eksekutif muda, hingga pengusaha dan penggeret gerobak sampah, duduk ‘satu meja’ di sana. Jurang status sosial, yang di banyak ketika kerap menjadi sekat, di kucingan seperti menjadi sesuatu yang tidak terlalu relevan. Soal presentasi fisik juga bisa ekstrim—dari orang berpakaian necis atau bahkan formil hingga orang bercelana kolor yang sangat boleh jadi belum sempat cuci muka (ini biasanya warga dekat yang baru bangun tidur untuk menonton pertandingan sepakbola di TV dini hari).

Tetapi yang paling luar biasa dari kucingan mungkin adalah peran sosio-kulturalnya (kalau istilah itu boleh digunakan), yang mungkin sering kurang kita sadari. Banyak kucingan (terutama yang berada di area pemukiman, dan bukan pusat keramaian seperti pasar atau terminal) yang kemudian menjadi lebih daripada sekadar sebuah alternatif dalam memenuhi kebutuhan konsumsi.

*******

Motif utama orang ke sana sering justru bukan urusan perut (yang jika cuma untuk itu toh lebih enak di rumah yang notabene dekat). Gerobak sederhana itu acap menjadi sebuah tempat hangout—bertemu teman/tetangga, bersendau-gurau, melepas penat sambil memperbincangkan berbagai hal mulai dari perkembangan lingkungan terbaru, gosip politik, hingga curhat (meski untuk yang terakhir ini biasanya tidak yang bersifat terlalu pribadi karena bisa didengar semua orang). Aktivitas yang secara individu seperti ‘penting-nggak penting’ ini secara kolektif jelas punya arti.

Bertemunya para tetangga di sana selama sekitar 10-30 menit secara relatif rutin itu sangatlah membantu terjaganya hubungan antar warga. Kedekatan ini pada gilirannya bisa menjadi semacam benteng pelindung untuk menangkal pengaruh buruk dari luar (seperti penyakit sosial). Artinya, warung yang umumnya bebas dari konotasi negatif ini punya andil dalam neighborhood resilience (ketahanan lingkungan).

Meski patut dicatat bahwa untuk yang terakhir itu peran sebuah warung kucingan lebih sebagai fasilitator (subjeknya tetaplah para warga yang bersangkutan—yang menentukan seberapa perlu memelihara tali kebersamaan), ini tentu tidak untuk mereduksi arti dari [peran] kucingannya itu sendiri.

Karena pada dasarnya suatu kegiatan—apa pun, yang mampu memelihara kedekatan warga sekitar, selalu mempunyai nilai lebih (dan nilai lebihnya akan lebih tinggi lagi jika keterlibatan para subjeknya adalah berdasarkan keinginan yang muncul dari dalam diri sendiri—bukan oleh keterpaksaan). Tenda kucingan banyak yang mampu menjalankan ‘misi’ sulit ini, meski mungkin secara tidak sengaja.

Jadi tidak berlebihan rasanya untuk mengatakan bahwa selain sebagai sebuah pilihan ekonomi, warung dengan ‘harga bantingan’ ini dalam skala kecil juga merupakan ajang sosialisasi dan ruang sapa bagi warga sekitarnya. Sebuah pagar kecil budaya dengan ‘biaya pemeliharaan’ murah, yang intens menjaga aset-aset warisan kita yang deras tergerus zaman—keramahan, keguyuban, dan mungkin juga kepedulian.

*******

—————————

Sumber gambar: wpclipart (alladin lamp)

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s