Skip to content

Profil

October 21, 2012

T'BUKO__
Hanya ada satu cara untuk mengenalnya. Anda harus ada di sana. Saat itu.

Sungguhpun demikian, mengingat bahwa sebuah ‘hunian’ bisa dipahami dengan mengenali ‘penghuninya’, mengenali pola hubungan di antara orang-orangnya, maka pendekatan yang sama juga bisa diterapkan untuk mengenal t’Buko—tempat di mana banyak orang tak saling kenal bertemu, dan menciptakan hubungan.

Blog ini adalah sebuah catatan kecil tentang hubungan yang terjalin di antara banyak orang tersebut. Sebuah album kenangan. Akan tetapi bukan orang yang hendak dikenang-kenang di sini, melainkan lebih kepada suatu upaya mengingat gagasan, yang meletup karena persuaan kiprah, dari siapa pun yang pernah berbagi di sana.

Dan posting ini sendiri hendak barang sedikit bercerita tentang sebagian kecil dari orang-orang itu, bagaimana bentuk dan sifat pertemanan mereka, agar pembaca yang belum pernah singgah di sana (atau bahkan belum pernah mendengar sama sekali tentangnya) sedikit banyak bisa mempunyai gambaran, seperti apa kira-kira tempat yang bernama t’Buko itu. Dan tentu saja, agar para subjek pelakunya sendiri bisa sedikit bernostalgia—tentang sebuah kebersamaan.

Jadi inilah, segelintir dari para penghuni itu.

 

pe_Mr. Pe (Pang)
[Ex Top Secret] Orang pertama yang secara tidak resmi dinobatkan makkopi sebagai ikon kebersamaan antara makkopi dan kusto-
mer. Karakter multi-talenta, dan termasuk salah satu kustomer yang ada sejak masa-masa awal hingga hari-
hari terakhir t’Buko. Selain kemampuannya yang sering sangat menolong, kontribusi terbesar si Mister sebenarnya mungkin justru ada pada karakternya—yang tanpa disadari menjadi salah satu acuan utama para makkopi generasi awal untuk belajar mengenali dan mengapresiasi hal-hal yang bersifat values dari profil kustomer t’Buko yang lain secara keseluruhan, yang kemudian diwariskan antar makkopi, dari gene-
rasi ke generasi. Pe adalah sosok teman, yang tidak menghindar saat kita butuh. Matur nuwun, Pang.

Mbak Dian
mdian2_MC pertama di t’Buko. Supel, banyak ber-
pengalaman di dunia broadcast, dan teman bicara yang luar biasa menyenangkan. Kepi-
awaian si Mbak dalam membawakan acara tidak hanya berkali-kali menyelamatkan suasana saat t’Buko yang masih greenhorn (saat komunitasnya belum begitu terbentuk) gelar acara, tapi juga menjadi semacam role model bagi generasi berikutnya untuk men-
coba ‘bisa seperti si Mbak’. Oya, dengan caranya sendiri yang khas, Mbak Dian juga merupakan salah satu orang yang banyak membekali t’Buko tentang bagaimana men-
jadi tuan atau nona rumah. Percaya deh, she’s a hell of a trainer!

nanda_Nanda
Makkopi pertama. Udah masuk kerja sebelum kedainya ada. Loh trus, ngapain? Nungguin tukang bangunan. Maksudnya ngemandorin, gitu? Ya enggak, lah! Jadi di luar hari kuliah dia datang, lihat DVD koleksi t’Buko sampe pusing sendiri, lalu pulang waktu bapak-bapak tukang bubar. Dan ini bukti sahih bahwa menonton bisa menjadi sebuah aktivitas yang sangat produktif, karena faktanya, tiap kali Nanda nyetel film, hari itu kerja tukang dijamin gak lelet. Pemopuler sapaan ‘Mak’, cikal bakal istilah ‘makkopi’. Pencipta ‘Mc Floo’ (belum nyoba rugi).

yuniar__Yuniar
Makkopi pertama yang jadi kapten. Satu angkatan dengan Nanda, tapi karena waktu itu masih ada keperluan, mulai masuknya beda sekian hari. Anak arsitek ini banyak ninggalin sentuhan untuk interior, terutama aspek pernak-perniknya. Sukses mengga-
lang partisipasi dan kerja sama dengan banyak orang untuk acara HUT t’Buko yang pertama (yang lalu jadi model untuk tahun-tahun berikutnya). Pencipta ‘Grande Caramel’ (ada kustomer yang jadi fanatik abis sama ni minuman, sampe gak mau nyoba yang lain). Pecinta hiking ini juga merupakan salah satu alumni yang tertarik dan berani mencoba membuat kafe sendiri, setelah tugasnya di t’Buko selesai.

ella_Ella
Hobi mahasiswi ini sangat menyenangkan: sigap menyeret siapa saja datang ke t’Buko (sip!), selalu berusaha mampir meski lagi sakit (hayuh, gimana coba?), siap mengikuti semua event meski acaranya kerja bakti mberesin rumah (wow!), dan sering bawa oleh-oleh (yes!). Berkali-
kali tertunda saat hendak pulang karena sebelah sepatunya ternyata hilang, yang selalu baru bisa ditemukan setelah mendekati jam tutup—berkat ‘jasa’ makkopi. Rekornya ganda: kustomer wanita pertama yang ikut ngecat tembok; dan kustomer pertama yang mau care bantu urusin kolam (Ngapain? Mbersihin tebaran koin dekil. Caranya? Pake sikat gigi, digosok satu-satu).

Eddy (Rabbit / Eddy Gordo)
eddyMakkopi ke-3, tapi merupakan makkopi pertama yang besutan t’Buko sendiri. Beda dangan dua seniornya yang saat gabung emang udah jago, Eddy seratus persen dari nol, tak bisa apa-apa. Gugup karena sama sekali tak berpengalaman menghadapi masa, banyak yang mengira ybs bakal gagal di training. Hasilnya? Tak hanya lulus, Rabbit juga menjadi salah satu makkopi yang paling aktif merintis pertemanan, nyaris juara scrabble, dan bahkan jadi mahir sulap sendok—yang membuat pencipta ‘Rabb Lime’ (yang segerr abisz!) ini juga berhak dikenang untuk rekor lain: makkopi yang paling banyak ngrusakin sendok.

makwul1_Mak Wul (Wulan)
Makkopi wanita pertama. Menyegarkan seperti oasis (sukses meredam protes ‘kok makkopinya cowok melulu’), tapi jangan pernah macam-macam dengannya. Mereka yang mau coba-coba mena-
namkan kultur ngebon pasti kapok kena labrak makkopi yang punya motto ‘langsung gajul!‘ ini. Akan tetapi jelas bukan cuma untuk urusan seperti itu srikandi ini terbukti nggegirisi. Suatu malam, dari atas balok yang ada karikatur makkopinya di tengah ruangan di dekat meja besar, ada ular tiba-tiba jatuh (sekali lagi ULAR, saudara-saudara!
dan sampe sekarang gak da yang ngerti gimana tu ular kok tau-tau bisa ada di sana). Bluugh! Mengetahui di tengah ruangan mendadak ada ular menggelepar-gelepar di lantai, orang-orang kontan panik. Mak Wul? Cuek aja dia nyamperin. Diggh! Lalu dengan lembut minta orang supaya buangin di kali (dasar ular blo’on, tau ada Mak Wul bukannya kabur). Di kalangan makkopi seangkatannya, Wulan punya julukan pantas: Wanita Tangguh.

Om Afit
afitMasih muda kok, tapi memang ka-
dang dipanggil seperti itu (mungkin karena kesannya dewasa atau gimana gitu). Mahasiswa arsitek ini tak cuma tukang gambar gedung, tapi juga suka gambar wajah. Tak bisa disangkal, karakter karikatur-
nya yang kuat ikut memberi warna pada karakter t’Buko
dari sejak masa-masa awal, hingga akhir hayat. Rekornya angker: kustomer pertama yang tetap tak mau pergi ketika diberi tahu bahwa tengah malam telah tiba dan kedai sudah waktunya tutupdan mantap stay di bar, hingga berjam-jam kemudian (dan sejarah membuktikan, untuk perkara yang satu ini, si Om punya banyak sekali ‘followers’). Julukan ‘Mr. Favorite’ berhasil disandang-
nya karena pada setiap turnamen scrabble, entah kenapa semua pemain seperti berebut ketemu dia.

mami2Mami
Waktu pertama kali datang, ibu ini cuma ingin tahu, seperti apa tempat yang begitu sering dikunjungi kedua anaknya hingga larut malam dan nyaris setiap hari ini. Dan fakta berbicara, dangan ketang-
kasannya, Mami jadi figur ibu pertama yang in di t’Buko. Banyak teman anak-anaknya yang kemudi-
an juga jadi dekat dan punya hubungan yang cair dengan Mami. Jago masak, serta tak ragu nyum-
bang masakan homemade atau ikut iris-iris di bar jika diperlukan, sosok Mami jelas membantu mene-
gaskan citra t’Buko sebagai sebuah tempat positif yang aman dan sehat (yang di masa awal sempat dipertanyakan sebagian orang karena jam buka yang hingga tengah malam). Oya, kalau di bulan puasa tiba-tiba ada kiriman es setup, pasti Mami!

bondanBondan (Bon Bon / Pak Bondan)
Bersahaja tetapi kokoh seperti batu karang, dan sangat mengayomi para makkopi junior asuhannya. Makkopi pertama yang berhasil merombak beberapa kekurangan pada aspek kultur internal. Sebagian orang sangsi atas kemampuannya saat ia naik posisi menjadi kapten. Tapi dengan disiplin dan integritasnya yang sangat tinggi serta karakternya yang tidak mudah terpengaruh, ia berhasil menjadi figur yang sangat bisa diterima, baik ke dalam (oleh para makkopi) atau pun ke luar (oleh para kustomer). Lama setelah Bondan resign, orang terus saja menanyakannya—termasuk mereka yang semula meragukannya. Pemain scrabble nan ulet ini juga punya attitude apik: ia sangat tidak gampang mengeluh.

nishita_

Nishita
Kustomer pertama yang membuat hidung t’Buko kembang karena kopi. Pernah stok kopi tak datang-datang. Agar kustomer tetap mempunyai pilihan, dikeluarkanlah stok darurat (biasa untuk konsumsi pribadi, tidak untuk dijual, karena
taste yang dianggap terlalu segmented). Saat itulah wanita India-Amerika ini minta kopi hitam dan menunjuk stoples yang berisi kopi emergency tsb. Sehari sebelum kembali ke negaranya, ia menyengaja datang ke t’Buko sekadar untuk memberikan beberapa kenang-kenangan dan menyampaikan, bahwa seumur hidupnya, belum pernah ia mendapati ada kopi yang demikian membuatnya terkesan seperti yang diminumnya malam itu. Setelah itu ia pamit, dan meski sudah menjelang tengah malam berjalan kaki seorang diri sampai agak jauh (karena tak kunjung mendapatkan taksi), sebelum akhirnya dikenali oleh kustomer t’Buko lain yang kemudian mengantarnya ke kost. Really, Nishita. We wish we knew you earlier. Much earlier…

Agung
Orang yang pertama bikin gara-gara, meski tak sengaja. Suatu pagi, setibanya di Semarang dalam perjalanan dari Jakarta menuju Salatiga, seseorang secara asal masuk ke sebuah kafe, yang ternyata hanya berisi satu orang, bartendernya sendiri—yang kebetulan juga merupakan salah satu pemilik kafe. Si orang lewat terkesan, bukan cuma soal tempat atau minuman, tapi ia mendapati bahwa
cara si bartender membuatkanagung_gatot_ pesanannya benar-benar inspiratif, sedemikian rupa sehingga ia ingin suatu saat nanti punya tempat seperti itu sendiri. Barten-
der itu Agung. Satu tahun kemudian, ‘si orang lewat’ mendirikan t’Buko.

Gatot
Orang pertama yang meng-encourage masa agar datang ke t’Buko. Bersama Agung (salah satu dari dua orang part-
nernya di kafe yang di-
singgahi ‘si orang lewat’), penikmat musik
jazz yang banyak berbagi wawasan tentang dunia hangout (khususnya di Semarang) dan ilmu perwarungkopian ini juga sangat aktif dalam pembidanan t’Buko, mulai dari menemani usung-usung pindahan, membahas karakter rumah, ikut berhari-hari menggodog konsep, hingga mencarikan tukang. Kontribusi keduanya juga luar biasa membantu di masa-masa awal operasional, saat t’Buko masih sangat canggung dalam menciptakan ‘jurus-jurusnya’ sendiri, dan saat para makkopi masih kikuk dengan konsep t’Buko—yang memang tidak lazim.

lusi6

Lusi
Seorang kapten biasanya adalah makkopi senior yang sudah sangat mengenal medan dan proble-
matika permasalahan. Tapi karena kurang strategis dalam mengatur estafet, pernah terjadi yang ada semuanya makkopi junior. Bahtera tanpa kapten? Atau akan ada cacat sejarah karena terpaksa mengeluarkan jurus robot dengan outsourcing menyewa orang luar sebagai kapten bon-bonan yang sulit diharapkan untuk bekerja dengan hati? Nanti dulu. Menyadari situasi sedang kritis, Lusi berani memikul tanggung jawab tersebut—meski sudah dijelaskan bahwa pressure-nya akan sangat berat baginya. Satu-satunya makkopi yang jadi kapten saat masih kebilang junior ini terbukti tak hanya konsisten dalam menjaga kepercayaan, tetapi ternyata juga punya nyali tempur habis-habisan. Mereka yang punya mau atau rencana aneh-aneh dengan t’Buko pasti capek dibuat gigit jari oleh karakter daredevil dari gadis heroik yang satu ini.

Ardi
ardi2_Di t’Buko sempat diadakan dua kali turnamen
scrabble. Di turnamen pertama kelas Ardi masih terbilang pupuk bawang dan jadi langganan bulan-bulanan lawan (turnamen ini tak sampai selesai karena di ujung usai, dimotori dua kandi-
dat juara yang tiba-tiba mogok, semua peserta sepakat untuk menghibahkan uang hadiah kepada t’Buko—yang sedianya diperuntukkan bagi sang juara, guna membeli
tiles atau keping huruf yang sudah banyak hilang—jenis yang dari kayu, jadi harus pesan ke negeri Paman Sam). Alih-alih kapok, Ardi justru giat berlatih, berani bermain melawan siapa saja—baik berempat ataupun dwitarung. Di turnamen kedua, untuk pertama kalinya t’Buko punya juara scrabble. Siapa? Ya mantan pemuda gondrong ini.

ria3

Ria
Makkopi pertama yang
breaking the rules dan disambut gembira. Di t’Buko ada UU tak tertulis: jika sudah menjelang skripsi/TA, makkopi diper-
silakan
resign. Tapi pernah, saat sedang butuh-
butuhnya suntikan tenaga, makkopi baru tak kunjung didapat (syarat untuk bisa diterima menjadi seorang makkopi memang tidak mudah). Saat itulah mantan makkopi yang dikenal pandai membagi waktu dan asyik diajak
teamwork serta suara riangnya sering mengiringi lagu yang sedang diputar ini menyatakan ingin comeback, meski ia sedang skripsi. Diterima? Tentu saja. Ada waktunya ludah sendiri perlu ditelan.

K-tony__Kang Tony
Banyak yang menyukai t’Buko karena faktor tempat dan orang-orangnya, si Akang tak terkecuali. Tapi dialah orang pertama yang terang-terang juga menyatakan suka karena faktor musiknya (yang oleh orang kadang dianggap ganjil itu). Mantan anak
band yang betah berjam-jam ngomongin musik psychedelic-rock ini memang kemudian menjadi salah satu sumber info/referensi t’Buko untuk urusan musik, termasuk video-clips. Biasa berpikir sebelum bicara—tapi juga siap meledak-
ledak kalau diperlukan, Kang Tony banyak membuka wawasan bagi komunitas tentang dunia ke-
event-organizer-an di Semarang, bidang yang digelutinya.

pipi__Pipi
Cuma sempat gabung sebentar, tapi membekas. Suatu hari ia bertanya, apa bisa
booking t’Buko untuk ultah-nya. Dijelaskan, jangankan seluruh rumah, sekadar booking meja pun tak bisa karena konsepnya yang open-house—jadi jika ingin event masal harus berani share acara ke semua pengun-
jung. Pipi tidak menyerah. Di hari-H, dara enerjik ini bawa makanan sampai meja besar penuh, lalu dengan ramah mempersilakan semua orang—baik yang sudah ada di dalam maupun yang baru masuk (yang rata-rata tidak dikenalnya karena ia sendiri masih baru), untuk mengambil piring sendiri dan menyantap hidangan. Rekor: kustomer yang di hari ulang tahunnya paling banyak membuat kustomer lain celingukan terheran-heran.

Bagus
Catatannya di t’Buko mengerikan. Pertama, sangat jelas: Ia gitaris tampan (lihat foto). Paling tidak menurut dirinya sendiri. Kadang, jika sedang duduk di sofa dan ada orang yang dikenalnya masuk, dengan suara penuh sukacita Bagus akan cepat mendahului berteriak menyapa: “Halo!! Waduuh, malam ini ganteng sekali…..saya!”. Di tangan sang maestro, jurus ini tak henti makan korban:bagus orang tergelak, sambil salah tingkah mengulum umpat. Kedua: Ia adalah orang pertama (dan satu-satunya) di t’Buko yang mampu membuat tiga
bingo dalam satu perma-
inan
scrabble yang dimainkan oleh tak kurang dari empat orang (!). Dan tentu saja, rekornya yang paling dahsyat: Ia kustomer pertama. Malam itu, tepat satu hari sebelum t’Buko mulai buka, Bagus datang. Lalu dengan penuh percaya diri ia memesan. Saat akan membayar, ditolak. Dijelaskan oleh makkopi, bahwa minuman tadi bukan jualan tetapi suguhan, karena kedai baru akan mulai buka satu hari lagi, jadi silakan datang lagi besok.
Dan besoknya? Dia tak datang!! Satu lagi: Ia
redhead (lihat lagi foto). Jadi jika suatu saat bertemu dan ternyata rambutnya hitam, jangan terkecoh, itu pasti dicat!!

sherly__Sherly
The last warrior, makkopi terakhir—imut, sangat mencerahkan suasana. Jika sedang kambuh, mahasiswi semester awal ini bisa bicara di bar ala biduan R&B yang sedang bernyanyi—lengkap dengan gesturnya. Saat belum menjadi makkopi, Sherly sudah suka cari tahu tentang dunia permakkopian sambil coba bantu-bantu di bar. Kebersamaannya yang relatif singkat (karena kedai keburu tutup) mungkin belum begitu banyak memberinya kesempatan untuk bereksplorasi. Tapi itu tak terlalu jadi soal, karena pribadi yang selain renyah terhadap kustomer juga pandai mencandai sesama makkopi ini jelas akan keep moving on.

Mas Slamet
masslametPrestasi: figur paling di luar dugaan
The phenomenon. Penjual nasgor keliling yang sering mangkal depan rumah. Mereka yang baru pertama kali datang ke t’Buko sering dibuat terlongong-longong oleh ulahnya. Coba saja, tiba-
tiba ada orang masuk ruang-
an lalu teriak (sekali lagi, TERIAK): “Nasi Gorreeeng!!”. Dan sering masih ditambah (juga teriak): “Sarapaann…!”, meski jelas-jelas itu malam hari. Lalu langsung ke bar, duduk, dan segera terkekeh-
kekeh digodain makkopi. Sungguh, butuh waktu bagi kustomer baru untuk meraba, sebenarnya ini teman yang sedang iseng atau tukang nasi goreng betulan.

tutut2Tutut (Richard)
Sekitar sebulan setelah
soft opening, t’Buko menyelenggarakan grand opening’. Setelah acara selesai, rumah masih penuh orang yang memutuskan untuk tinggal. Tiba-tiba terdengar pekikan kecil. Lalu teriakan lain. Lalu heboh. Ternyata ada beberapa pesulap (yang nota-
bene teman t’Buko) menggarap pengunjung (baik yang duduk atau berdiri tak dapat kursi) yang mengira acara benar-benar sudah usai. Dan
magician dengan spesialisasi sulap kartu inilah yang rasanya berhak atas gelar: orang yang paling pantas dituduh sebagai biang gila magic yang sempat mewabah lama di t’Buko.

Marion
mari3_Dosen pertama yang gabung, tak sungkan dengan komunitas t’Buko yang banyak mahasiswanya. Saking langsung merasa cocoknya, di hari pertama kemunculannya ia memerlukan diri mampir dua kali, tak lama setelah jam buka dan datang lagi menjelang tutup. Kadang bawa teman dari
sono atau lokal, dan tak jarang nongol sendirian. Marion mudah enjoy ngobrol sama siapa saja, meski bahasa Inggris-nya relatif pas-pasan. Orang Perancis yang suka meng-
akhiri SMS-nya dengan
emoticons ini juga merupakan kustomer pertama yang praktek masak mengajari menu (à la française), meski t’Buko tidak menyedia-
kan menu makanan.
Merci, Mademoiselle.  🙂

Mas Tomi
Ya, benar.
This is it! Ini dia, yang pertama….. tidur di t’Buko. Kita kupas habis. Hobinya langka: minjam motor kustomer atau pegawainya sendiri. Orangnya agak sulit digambarkan. Punya kedai, tapi bikin satu menu pun tak bisa. Konon agak gila musik. Tapi? Tepat sekali! Tak satu alat pun bisa! Jadi susah juga mau bahas, kalau memang tidak begitu mudah untuk bilang, sebenarnya orang ini bisanya apa. m-tomi__Tapi yang jelas dia beruntung, karena ada saja orang yang mau jadi temannya—orang-orang dengan bermacam kebisaan, meski dia sendiri suka khilaf. Misalnya ini. Setiap kali pesan nasgor ke Mas Slamet, Mas Tomi selalu dapat bonus sate ayam. Sebagai orang yang membatasi makan ayam (sukanya daging sapi atau kambing), diam-diam sate tersebut selalu dihibahkan kepada makkopi (yang anehnya secara kebetulan selalu sedang tersenyum lebar). Tapi karena kurang hati-hati, suatu saat trik ini terbongkar oleh Mas Slamet. Ugh! Sejak saat itu, meski masih menikmati harga diskon, Mas Tomi tidak pernah mendapatkan bonus sate lagi…

—————————————

Logo: Tomi & Komeng
Foto-foto: dok. t’Buko

From → People

29 Comments
  1. gundala putra bapaknya permalink

    t’buko sudah menjadi bagian berharga bagi cerita kehidupan.dia adalah keluarga bagi penghuninya (maksute opo kwi??) .t’buko bukan suatu tempat,t’buko adalah keluarga (iki meneh opo jal..)

  2. sherly permalink

    t’Buko, kangennn .. :((

    • eh, ada jeng Sherly.. 😀

      • gundala putra bapaknya permalink

        jeng sherly buka tbuko baru ya ..,di belakang bank bi pahlawan..,denger di radio pop fm..,apa betul?

      • 1 ato 2 mingguan lg kayake aku mo nyari lunpia, kalo bener gitu ntar kasih tau aku tempate ya om Gun, kangen dah lama gak order ma si jeng…

  3. t’Buko : rumah… warung… dan juga sekolah (karena saya dapat kuliah di sini bukan di kampus) hehehehe…

  4. wahyu permalink

    aku mau ngomong apa ya…(*nongkrong depan eks tbuko yg udah jadi warung makan)

  5. lelananging jagad permalink

    beres mas…nongkrong di warung makan tpi belinya nasgor slamet boleh ga ya (*ngejar diskonan dari slamet)

  6. T’buko adalah keluarga besar persaudaraan sejati bagi yang berjiwa muda…..

  7. Oh Tuhan…
    Ini mesin waktu rasanya. Kok aku baru liat postingan ini ya😦
    Ini namanya kurang jalan2…
    Matur nuwun mas, sudah menarik saya ke pusaran waktu yang manis itu.

    • Sami-sami, Mbak🙂
      * sedikit penjelasan *
      Mungkin pas Mbak masuk, posting sudah ada enam. Lalu karena ‘homepage’ dan ‘recent post’ sama-sama hanya menampilkan lima posting terakhir, jadi Mbak Dian nyangka baru ada lima posting. Layout dan/atau navigasi blog ini sepertinya memang perlu perbaikan, supaya lebih memudahkan. Kalau Mbak Dian nggak bilang, mungkin akunya nggak kepikiran.
      Trims..

  8. mau bantingan untuk buat t’buko seri kedua?

  9. @ RI & DP
    Mohon doa restu..
    Blog si hantu ngantukan ini sedang mencoba mencetak rekor baru:
    Membuat posting selama tiga hari berturut-turut!
    (kita lihat saja kalau ingkar janji mau alasan apa lagi dia)

  10. Kenken permalink

    No other place like tbuko….

    Kangen sofa loreng2nya…hahhaa

    • Sugeng rawuh, Jeng Ken:mrgreen: (isin ki, konangan kalo aku blogger kesèt)

      Sofa yang nyamannya seampun-ampun itu dibeto Dino.
      Mungkin dia kadung tresno (ato gak sampé hati) ma bodhol-bodhol nya..

  11. faris permalink

    aku ari nos diinto rak ditulis..

    • (Dimoderasi ya Yis, biar nggak terlalu dramatis..:mrgreen: )
      Halo Yis. Ada kok, coba aja search ‘Ayis’ atau ‘Dinto’ gitu.
      Nanti di ‘Album’ juga pasti ada. Belum sempet bongkar2 file ki..

  12. Ehm! Baru sadar sekitar 2 jam yang lalu (alias setelah sekitar 1,5 tahun). Ternyata link foto di blog ini banyak yang ngawur (page not found) he.. he.. Mohon maap untuk yang sudah berusaha unduh.

    Sekarang foto bisa diunduh, juga rata-rata jadi besar jika di-klik. Bisa coba yang ada di post ini.
    Sekali lagi mahap.. 200x

    3 Mei 2014, 00:17 😀

  13. budy permalink

    tiba tiba keinget tempat nongkrong aq dulu waktu kuliah di unnes.. T’Buko

    • Halo Budy, makasih sudah mampir. Iya anak unnes banyak juga dulu yang ngepos di t’Buko. Maaf versi cyber-nya tidak tergarap baik nih (‘Jejak Blogger Canggung’). Kayaknya si admin emang jagonya bikin blog hiatus hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s