Memang susah, Yin
Kalo dari kecil, kita liatnya melulu orang kelahi
Bukan indahnya kasih sayang penyejuk hati
yang hembuskan tentram menggugah inspirasi
Tapi nada-nada tinggi tanpa simpati
yang ingin pihak lain tampak buruk tiap kali bunyi
Persis kaya di TV
He..he..
Konon, saat gelombang pendatang mulai tiba dan menyebar di daratan yang baru ditemukan, terjadilah pertempuran dengan penduduk asli. Pihak pendatang untung, penduduk asli bertempur sendiri-sendiri—tidak bersatu (karena antar mereka sendiri memang suka berkelahi). Meski unggul senjata, pendatang kewalahan karena lawan lebih nekat (tak takut mati) dan lebih menguasai medan (biasa hidup di alam liar). Putar akal, pendatang mencoba jurus yang berbeda. Suku-suku yang tidak terlalu menunjukkan sikap bermusuhan didatangi, dengan sikap penuh hormat. Sebagai tanda iktikad baik, tak lupa mereka bawa hadiah—peti berisi air ajaib, yang jika diminum tidak menyejukkan dahaga, tetapi justru membakar tubuh. Orang Indian menyebutnya ishkodewaaboo—yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris berarti firewater. Air api. Whiskey. Baca terusannya…
Semua orang mafhum. Di t’Buko, jika seseorang tiba-tiba ditawari ‘jabatan’ menjadi semacam program director untuk mengetuai sebuah acara tertentu, sebenarnya yang bersangkutan cuma diminta untuk memperbanyak pundi amal—pusing memikirkan persiapannya selama dua atau tiga hari sebelumnya, serta siap kerja dari petang hingga lewat tengah malam pada hari-H (meskipun jika itu adalah hari kerja). Lalu, imbalan yang sang Director (dan segenap team) terima untuk semua jerih payah itu? Sebuah ucapan terima kasih. Dan bukan yang lain—yang jauh lebih lazim. Lanjutkan membaca…